Thursday, August 27, 2009

Apa ada dengan Ramadhan?

Apa ada dengan Ramadhan?


بسم الله الرحمن الرحيم

Rasulullah SAW bersabda, " Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan ALLAH dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi ALLAH. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Memohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendeng aranmu dari apa yang tidak halah kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! Allah SWT bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul-alamin. Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. Sahabat-sahabat Rasulullah bertanya: "Ya Rasulullah Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian." Rasulullah meneruskan: Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa melakukan shalat sunat dibulan ini, ALLOH akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fa rdu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin berkata: "Aku berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?" Jawab Nabi: Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama dibulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah". "Wahai manusia!, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu'."

"Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain." "Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukminin di dalamnya."

"Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang." Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah SAW, "Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu." "Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barang siapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka."

"Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya." "Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka."

"Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga."

(HR. Ibnu KHuzaimah).
اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن

Wednesday, August 26, 2009

Aftermath permatang pasir by election

Tahniah PAS..
walaupun anda tak punya tv, radio, askat, polis, sprm
anda mampu menang..aku kagum.. radio tv suratkhabar perdana hari hari dok hentam PAS tanpa beri peluang untuk PAS balas balik.. inilah yg berlaku dalam negara kita.. demokrasi taik kucing.. semua pengamal media mengampu hanya yang indah untuk BN.. timbula pula tentang calon BN yang bermasalah.. BN kata serangan peribadi!! dalam hal ini BN dah lupa apa yang BN canangkan beberapa minggu yg lalu.. "Anwar Pengkhianat" tu bukan ke serangan peribadi? dalm hal di N11 Permatang Pasir ni, dah tentulah isu peribadi calon masing masing akan diperkatakan kerana kita nak lantik orang jadi ketua wakil rakyat.. perlulah dilihat samaada mereka ini layak atau tidak.. bersih atau tidak.. takkanlah kita nak diamkan kalau calon parti lawan di lucutkan lesen peguam sivilnya.. kerana kes salah guna wang klien? untuk memilih pemimpin antara ciri yang utama adalah amanah.. kalau dah sangkut kes tidak amanah maka calon tersebut sebenarnya bukan saja mencemarkan nama baik parti yang diwakilinya malah membuatkan pengundi merasa diperbodohkan.. apakah takdacalon yg bersih dalam UMNO? malah Dr M sendiri cakap adalah sesuatu yang bodoh dengan mencalonkan calon yang punya masalah sebegini.. kini UMNO dah dapat pengajaran.. lain kali calon mesti mau bersih.. malu lah bila cakap inilah calon terbaik yang diusulkan UMNO P Pinang.. mencemarkan nama melayu dan islam jer.. satu dunia tau peguam melayu yang tidak amanah dicalonkan menjadi wakil rakyat.. cina .. india.. tau.. kan ke malukan bangsa namanya ni.. nasib baik majlis peguam pecah rahsia ni awal kalau la dibuatnya pecah lepas dah jadi wakil rakyat kan ke haru.. kehkehkeh

Monday, August 24, 2009

Abah..pulangkan tangan adik....


Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja.Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun.Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerjabermain di luar, tetapi pintu pagar tetap dikunci.
Bermainlah dia sama ada berbuai-buai di atas buaian yang uatu hari dia terjumpa sebatang paku karat. Dia pun melakar simen tempat letak kereta ayahnya tetapi kerana diperbuat daripada marmar,lakaran tidak kelihatan. Dicubanya pada kereta baru ayahnya.
Ya…kerana kereta itu bewarna gelap, lakarannya jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun melakarlah melahirkan kreativitinya. Hari itu bapa dan ibunya bermotosikal ke tempat kerja kerana laluannya sesak sempena perayaan Thaipusam di Batu Caves.
Penuh sebelah kanan dia beredar ke sebelah kiri kereta.Dilakarnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam,kucing dan sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu langsung tak disedari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejut besar pasangan itu melihat kereta yang baru setahun dibeli dengan bayaran ansuran yang belum habis berbayar, berbatik-batik. Si bapa yang belum pun masuk ke rumah terus menjerit, “Siapa punya kerja ni?”
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. ..Mukanya merah padam ketakutan tambah-tambah melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan “Tak tahu… !”
“Saya tak tahu Tuan..! “
“Duduk di rumah sepanjang hari tak tahu, apa kau buat?” herdik si isteri lagi. bila anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari bilik. Dengan penuh manja dia berkata
“Adik
buat ayahhh.. cantik kan!” katanya menerkam ayahnya ingin bermanja seperti selalu.Dengan kasih murni seorang anak yang belum memahami apa-apa, menarik lembut poket seluar abahnya, manja.
Si ayah yang hilang sabar merentap ranting kecil pokok bunga raya didepannya, terus dipukul bertalu-talu tapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan.
Puas memukul tapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan diri, mungkin setuju dan berasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah melopong, tak tahu nak buat apa-apa, sungguh kesian dan teramat sedih, namun dia sangat takut . Si bapa cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. Selepas merasa puas, si bapa masuk ke rumah dituruti si ibu.
Pembantu rumah segera memeluk dengan penuh sayang dan duka, cepat-cepat menggendong anak kecil itu, membawanya ke bilik. Dilihatnya tapak tangan dan belakang tangan si anak kecil calar balar.
Menangis terusak-isak keduanya, dalam bilik.Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia menangis. Anak kecil itu pula terjerit-jerit menahan kepedihan sebaik calar-balar itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapa sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anakbengkak. Pembanturumah mengadu. “Sapukan minyak gamat tu!” balas tuannya, bapa si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak melayan anak kecil itu yang menghabiskan masa di bilik pembantu. Si bapa konon mahu mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah langsung tidak menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Ita demam… ” jawap pembantunya ringkas. “Bagi minum panadol tu,” balas si ibu.
Sebelum si ibu masuk bilik tidur dia menjenguk bilik pembantunya. Apabila dilihat anaknya ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup semula pintu.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahu tuannya bahawa suhu badan Ita terlalu panas. “Petang nanti kita bawa ke klinik.
Pukul 5.00 siap” kata majikannya itu. Sampai waktunya si anak yang longlai dibawa ke klinik. Doktor mengarahnya ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius.
Setelah seminggu di wad Pediatrik doktor memanggil bapa dan ibu kanak-kanak itu. “Tiada pilihan..” katanya yang mencadangkan agar kedua-dua tangan kanak-kanak itu dipotong kerana jangkitan yang sudah menjadi gangren sudah terlalu teruk. “Ia semakin hitam, demi nyawanya tangan perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor. Si bapa dan ibu
bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu.
Terasa dirinya tunggang terbalik, tapi apalah dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapa terketar-ketar menandatangani surat kebenaran pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas ubat bius yang dikenakanhabis, si anak menangis kesakitan. Dia juga terpinga-pinga, melihatkedua- dua tangannya berbalut putih. Direnung muka ayah dan ibunya.
Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam seksaan menahan sakit, si anak yang keletah bersuara dalam linangan air mata.
“Abah.. Mama… adik tak buat lagi. adik tak mau ayah pukul lagi” rayunya tersedu-sedu..
Adik tak mau jahat. Adik
sayang abah.. sayang mama.” katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa.
“Adik juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah,sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung seperti histeria.
Tidak seorangpun yang melihat suasana itu tidak menangis….
“Abah.. bagilah balik tangan adik.. Buat apa ambik.. Adik
janji tak buat lagi! Adik janji betul betul ni, kalau tak adik nak makan macam mana?
Nak main macam mana? Adik
janji tak conteng kereta lagi,” katanya bertalu-talu.
Bagaikan gugur jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya.
Meraunglah dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya..

Selamat Datang Ramadan..


Dah tiba masanya bulan pahala..
Limpahan rahmat dari Allah yang maha Agung..
Bulan yang mulia di sisi agama Islam,
Bulan ini para muslimin muslimat dituntut mengerjakan ibadah puasa dari subuh hingga ke maghrib, alhamdulillah.. aku masih di beri kesempatan oleh Allah SWT untuk memeluk, mencium.. bulan yang penuh rahmat nie.. inilah bulan paling berbaloi bagi orang yang mengerti akan berharganya masa itu.. dalam bulan ni pahala melimpah ruah untuk orgmukmin.. antara amalan yg baik dalam bulan puasa yang elok kita amalkan ialah solat berjemaah isya` dan subuh.. ye la kan alang2 nak solat tarawikh, kita solat isya' berjamaah dulu kat surau.. pahala bagi org yg mengerjakan solat berjamaah isya' dan subuh adalah umpama org yg beribadat sepanjang malam.. sapa tak mau? hanya org yg gila aja tak nak rebut peluang keemasan ni.. tu belum campur solat tarawikh lagi.. aku macam biasa la buat 8 jer.. hehe.. oklah tu daripada tak buat langsung.. semoga Allah terima ibadah ku itu.. insyaAllah.. menyebut tentang solat tarawikh.. isnya istimewa.. aku rasa satu satunya solat sunat yang dituntut berjamaah.. dan bilabulan posa gini surau full woo.. alhamdulillah.. biasalah awal puasa kan..tgk ler lagi dua tiga minggu hehe.. takpalah janji ada jugak buat daripada langsung tak jengah surau kan.. seronok solat tarawikh ni.. kita buat ramai ramai kan seronoktgkumat islam bersatu hati menyembah ALLAH SWT.. kalaulah setiap waktu macam ni.. cuma masa tarawikh ni yang buat aku ralat ialah bila Pak Imam jenis laju yang mengimamkan.. yup..aku faham ada orang nak cepat.. tapi entahlah rasa tak puas nak sujud lama lama... cuma sempat sekali jer "Subhanarobbial a'laa.." dah bangun.. lepas tu duduk antara dua sujud pun bukan main kejap lagi.. tak sempat abis baca "Rabbirgh firli, warhamni wajaburni.." dah sujud semula..padahal ketika tarawih ni la kita nak sujud lama sikit..tanda syukur pada tuhan yang telah memberikan segala nikmat.. lepas tu masa duduk antara dua sujud tu.. masa tula nak minta macam macam kat tuhan..
“Tuhanku! Kurniakanlah keampunan untukku, rahmatilah daku, perbaikilah diriku, angkatlah darjatku, kurniakanlah rezki kepadaku, berilah hidayah kepadaku dan maafkanlah daku" (Maksud doa ketika duduk diantara dua sujud "Rabbirgh firli, warhamni..") kalau tak sempat abis baca kadang2 aku jadi ralat gak.. hihi aku tak salahkan imam mungkin imam nak cepat abis sebab dia nak wat 20 rakaat.. takpalah.. nanti kat umah kita leh wat solat sunat tahajjud atau taubat.. buat la lama mana mampu.. hehe..(ayat penyedap diri) hmm okla untuk malam ni.. saja ja menaiptulis isi hati sikit.. kihkihkih.. ape ape pun buat kawan kawan semua Selamat Menyambut Ramadan.. dan selamat berpuasa.. toksahlah ponteng2 puasa.. belumtentu kita akanbertemu dgn ramadan tahun depan.. buat la amal byk2..masa "durian runtuh" ni.. ok Assalamualaikum..

Sunday, August 9, 2009

*Jubah Buat Ibu*

*Jubah Buat Ibu*

"Apa nak jadi dengan kau ni Along? Bergaduh! Bergaduh! Bergaduh! Kenapa kau
degil sangat ni? Tak boleh ke kau buat sesuatu yang baik, yang tak
menyusahkan aku?", marah ibu. Along hanya membungkam. Tidak menjawab sepatah
apapun. "Kau tu dah besar Along. Masuk kali ni dah dua kali kau ulang ambil
SPM, tapi kau asyik buat hal di sekolah. Cuba la kau ikut macam Angah dengan
Alang tu. Kenapa kau susah sangat nak dengar nasihat orang hah?", leter ibu
lagi.

Suaranya kali ini sedikit sebak bercampur marah. Along terus membatukan
diri. Tiada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Seketika dia melihat
si ibu berlalu pergi dan kembali semula dengan rotan di tangannya. Kali ini
darah Along mula menderau. Dia berdoa dalam hati agar ibu tidak memukulnya
lagi seperti selalu. "Sekarang kau cakap, kenapa kau bergaduh tadi? Kenapa
kau pukul anak pengetua tu? Cakap Along, cakap!" Jerkah ibu. Along semakin
berdebar-debar namun dia tidak dapat berkata-kata. Suaranya bagai tersekat
di kerongkong. Malah, dia juga tidak tahu bagaimana hendak menceritakan hal
sebenar. Si ibu semakin bengang. " Jadi betul la kau yang mulakan pergaduhan
ye!? Nanti kau, suka sangat cari penyakitkan, sekarang nah, rasakan!" Si ibu
merotan Along berkali-kali dan berkali-kali jugaklah Along menjerit
kesakitan.

"Sakit bu...sakit.. ..maafkan Along bu, Along janji tak buat lagi....Bu,
jangan pukul bu...sakit bu..." Along meraung meminta belas si ibu agar tidak
merotannya lagi. "Tau sakit ye, kau bergaduh kat sekolah tak rasa sakit?"
Balas ibu lagi. Kali ini semakin kuat pukulan si ibu menyirat tubuh Along
yang kurus itu. "Bu...ampunkan Along bu...bukan Along yang mulakan...bukan
Along....bu, sakit bu..!!", rayu Along dengan suara yang tersekat-sekat
menahan pedih. Along memaut kaki si ibu. Berkali-kali dia memohon maaf
daripada ibunya namun siratan rotan tetap mengenai tubuhnya. Along hanya
mampu berdoa. Dia tidak berdaya lagi menahan tangisnya. Tangis bukan kerana
sakitnya dirotan, tapi kerana memikirkan tidak jemukah si ibu merotannya
setiap hari. Setelah hatinya puas, si ibu mula berhenti merotan Along.
Tangan Along yang masih memaut kakinya itu di tepis kasar. Along menatap
mata ibu. Ada manik-manik kaca yang bersinar di kelopak mata si ibu. Along
memandang dengan sayu. Hatinya sedih kerana telah membuatkan ibunya menangis
lagi kerananya.

Malam itu, Along berjaga sepanjang malam. Entah mengapa matanya tidak dapat
dilelapkan. Dia asyik teringatkan peristiwa dirotan ibu petang tadi.
Begitulah yang berlaku apabila ibu marahkannya. Tapi kali ini marah ibu
sangat memuncak. Mungkin kerana dia menumbuk anak pengetua sewaktu di
sekolah tadi menyebabkan pengetua hilang sabar dan memanggil ibunya ke
sekolah untuk membuat aduan kesekian kalinya. Sewaktu di bilik pengetua,
Along sempat menjeling ibu di sebelah. Namun, dia tidak diberi kesempatan
untuk bersuara. Malah, semua kesalahan itu di dilemparkan kepadanya seorang.
Si Malik anak pengetua itu bebas seolah-olah sedikit pun tidak bersalah
dalam hal ini. Along mengesat sisa-sisa air mata yang masih bertakung di
kelopak matanya. Dia berlalu ke meja tulis mencapai minyak sapu lalu
disapukan pada bekas luka yang berbirat di tubuhnya dek rotanan ibu tadi.
Perlahan-lahan dia menyapu ubat namun masih tetap terasa pedihnya. Walaupun
sudah biasa dirotan, namun tidak seteruk kali ini Along merebahkan badannya.
Dia cuba memejamkan mata namun masih tidak mahu lelap. Seketika wajah ibu
menjelma diruang ingatannya. Wajah ibu suatu ketika dahulu sangat
mendamaikan pada pandangan matanya. Tetapi, sejak dia gagal dalam SPM,
kedamaian itu semakin pudar dan hanya kelihatan biasa dan kebencian di wajah
tua itu. Apa yang dibuat serba tidak kena pada mata ibu. Along sedar, dia
telah mengecewakan hati ibu dahulu kerana mendapat keputusan yang corot
dalam SPM. Tetapi Along tidak pernah ambil hati dengan sikap ibu walau
adakalanya kata-kata orang tua itu menyakiti hatinya. Along sayang pada ibu.
Dialah satu-satunya ibu yang Along ada walaupun kasih ibu tidak semekar
dahulu lagi. Along mahu meminta maaf. Dia tidak mahu menjadi anak derhaka.
Fikirannya terlalu cacamarba, dan perasaannya pula semakin resah gelisah.
Akhirnya, dalam kelelahan melayani perasaan, Along terlelap juga.

Seminggu selepas peristiwa itu, si ibu masih tidak mahu bercakap dengannya.
Jika ditanya, hanya sepatah dijawab ibu.. Itupun acuh tidak acuh sahaja.
Pulang dari sekolah, Along terus menuju ke dapur. Dia mencangak mencari ibu
kalau-kalau orang kesayangannya itu ada di situ. Along tersenyum memandang
ibu yang terbongkok-bongkok mengambil sudu di bawah para dan kemudian
mencacap makanan yang sedang dimasak itu. Dia nekad mahu menolong.
Mudah-mudahan usahanya kali ini berjaya mengambil hati ibu. Namun, belum
sempat dia melangkah ke dapur, adik perempuannya yang baru pulang daripada
mengaji terus meluru ke arah ibu. Along terperanjat dan cuba berselindung di
sebalik pintu sambil memerhatikan mereka..

" Ibu..ibu masak apa ni? Banyaknya lauk, ibu nak buat kenduri ye!?" Tanya
Atih kehairanan. Dia tidak pernah melihat ibunya memasak makanan yang
pelbagai jenis seperti itu. Semuanya enak-enak belaka. Si ibu yang lincah
menghiris sayur hanya tersenyum melihat keletah anak bongsunya itu.
Sementara Along disebalik pintu terus memerhatikan mereka sambil memasang
telinganya. "Ibu, Atih nak rasa ayam ni satu boleh?" " Eh jangan, nanti
dulu. Ibu tau Atih lapar, tapi tunggulah Kak Ngah dengan Alang balik dulu.
Nanti kita makan sekali. Pergi naik atas mandi dan tukar baju dulu ye!", si
ibu bersuara lembut. Along menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan.
'anak-anak kesayangan ibu nak balik rupanya..' bisik hati kecil Along. "Kak
Ngah dengan Alang nak balik ke ibu?", soalnya lagi masih belum berganjak
dari dapur. Si ibu mengangguk sambil tersenyum. Di wajahnya jelas
menampakkan kebahagiaan. "Oooo patutlah ibu masak lauk banyak-banyak. Mmm
bu, tapi Atih pelik la. Kenapa bila Along balik, ibu tak masak macam ni
pun?". Along terkejut mendengar soalan Atih Namun dia ingin sekali tahu apa
jawapan dari ibunya. "Along kan hari-hari balik rumah? Kak Ngah dengan Alang
lain, diorang kan duduk asrama, balik pun sebulan sekali ja!", terang si
ibu.. "Tapi, ibu tak penah masak lauk macam ni dekat Along pun..", soal Atih
lagi. Dahinya sedikit berkerut dek kehairanan. Along mula terasa sebak. Dia
mengakui kebenaran kata-kata adiknya itu namun dia tidak mahu ada perasaan
dendam atau marah walau secalit pun pada ibu yang sangat disayanginya. "Dah
tu, pergi mandi cepat. Kejap lagi kita pergi ambil Kak Ngah dengan Alang
dekat stesen bas." , arah ibu. Dia tidak mahu Atih mengganggu kerja-kerjanya
di dapur dengan menyoal yang bukan-bukan. Malah ibu juga tidak senang jika
Atih terus bercakap tentang Along. Pada ibu, Along anak yang derhaka yang
selalu menyakiti hatinya. Apa yang dikata tidak pernah didengarnya. Selalu
pula membuat hal di sekolah mahupun di rumah. Disebabkan itulah ibu semakin
hilang perhatian pada Along dek kerana marah dan kecewanya.

Selepas ibu dan Atih keluar, Along juga turut keluar. Dia menuju ke Pusat
Bandar sambil jalan-jalan buat menghilangkan tekanannya. Tiba di satu kedai,
kakinya tiba-tiba berhenti melangkah Matanya terpaku pada sepasang jubah
putih berbunga ungu yang di lengkapi dengan tudung bermanik. 'Cantiknya,
kalau ibu pakai mesti lawa ni....' Dia bermonolog sendiri. Along melangkah
masuk ke dalam kedai itu. Sedang dia membelek-belek jubah itu, bahunya
tiba-tiba disentuh seseorang. Dia segera menoleh. Rupa-rupanya itu Fariz,
sahabatnya. "La...kau ke, apa kau buat kat sini?", tanya Along ingin tahu
sambil bersalaman dengan Fariz. "Aku tolong jaga butik kakak aku. Kau pulak
buat apa kat sini?", soalnya pula. "Aku tak de buat apa-apa, cuma nak
tengok-tengok baju ni. Aku ingat nak kasi mak aku!", jelas Along jujur.
"waa...bagus la kau ni Azam. Kalau kau nak beli aku bagi less 50%.
Macammana?" Terlopong mulut Along mendengar tawaran Fariz itu. "Betul ke ni
Riz? Nanti marah kakak kau!", Along meminta kepastian. "Untuk kawan baik
aku, kakak aku mesti bagi punya!", balas Fariz meyakinkannya. "Tapi aku kena
beli minggu depan la. Aku tak cukup duit sekarang ni." Cerita Along agak
keseganan. Fariz hanya menepuk mahunya sambil tersenyum. "Kau ambik dulu,
lepas tu kau bayar sikit-sikit. " Kata Fariz . Along hanya menggelengkan
kepala tanda tidak setuju.. Dia tidak mahu berhutang begitu. Jika ibunya
tahu, mesti dia dimarahi silap-silap dipukul lagi. "Dekat kau ada berapa
ringgit sekarang ni?", soal Fariz yang benar-benar ingin membantu sahabatnya
itu. Along menyeluk saku seluarnya dan mengeluarkan dompet berwarna hitam
yang semakin lusuh itu. "Tak sampai sepuluh ringgit pun Riz, tak pe lah, aku
datang beli minggu depan. Kau jangan jual dulu baju ni tau!", pesan Along
bersungguh-sungguh. Fariz hanya mengangguk senyum.

Hari semakin lewat. Jarum pendek sudah melangkaui nombor tujuh. Setelah
tiba, kelihatan Angah dan Alang sudah berada di dalam rumah. Mereka sedang
rancak berbual dengan ibu di ruang tamu. Dia menoleh ke arah mereka seketika
kemudian menuju ke dapur. Perutnya terasa lapar sekali kerana sejak pulang
dari sekolah petang tadi dia belum makan lagi. Penutup makanan diselak.
Syukur masih ada sisa lauk-pauk yang ibu masak tadi bersama sepinggan nasi
di atas meja. Tanpa berlengah dia terus makan sambil ditemani Si Tomei,
kucing kesayangan arwah ayahnya. "Baru nak balik waktu ni? Buat hal apa lagi
kat luar tu?", soalan ibu yang bernada sindir itu tiba-tiba membantutkannya
daripada menghabiskan sisa makanan di dalam pinggan. "Kenapa tak makan kat
luar ja? Tau pulak, bila lapar nak balik rumah!", leter ibu lagi. Along
hanya diam. Dia terus berusaha mengukir senyum dan membuat muka selamber
seperti tidak ada apa-apa yang berlaku. Tiba-tiba Angah dan Alang
menghampirinya di meja makan. Mereka berdiri di sisi ibu yang masih
memandang ke arahnya seperti tidak berpuas hati. "Along ni teruk tau. Suka
buat ibu susah hati. Kerana Along, ibu kena marah dengan pengetua tu." Marah
Angah, adik perempuannya yang sedang belajar di MRSM. Along mendiamkan diri.
Diikutkan hati, mahu saja dia menjawab kata-kata adiknya itu tetapi melihat
kelibat ibu yang masih di situ, dia mengambil jalan untuk membisu sahaja.
"Along! Kalau tak suka belajar, berhenti je la. Buat je kerja lain yang
berfaedah daripada menghabiskan duit ibu", sampuk Alang, adik lelakinya yang
menuntut di sekolah berasrama penuh. Kali ini kesabarannya benar-benar
tercabar. Hatinya semakin terluka melihat sikap mereka semua. Dia tahu,
pasti ibu mengadu pada mereka. Along mengangkat mukanya memandang wajah ibu.
Wajah tua si ibu masam mencuka. Along tidak tahan lagi. Dia segera mencuci
tangan dan meluru ke biliknya.

Perasaannya jadi kacau. Fikirannya bercelaru. Hatinya pula jadi tidak keruan
memikirkan kata-kata mereka. Along sedar, kalau dia menjawab, pasti ibu akan
semakin membencinya. Along nekad, esok pagi-pagi, dia akan tinggalkan rumah.
Dia akan mencari kerja di Bandar. Kebetulan cuti sekolah selama seminggu
bermula esok. Seperti yang dinekadkan, pagi itu selesai solat subuh, Along
terus bersiap-siap dengan membawa beg sekolah berisi pakaian, Along keluar
daripada rumah tanpa ucapan selamat. Dia sekadar menyelitkan nota buat si
ibu menyatakan bahawa dia mengikuti program sekolah berkhemah di hutan
selama seminggu. Niatnya sekadar mahu mencari ketenangan selama beberapa
hari justeru dia terpaksa berbohong agar ibu tidak bimbang dengan
tindakannya itu. Along menunggang motorsikalnya terus ke Pusat Bandar untuk
mencari pekerjaan. Nasib menyebelahinya, tengah hari itu, dia diterima
bekerja dengan Abang Joe sebagai pembantu di bengkel membaiki motorsikal
dengan upah lima belas ringgit sehari, dia sudah rasa bersyukur dan gembira.
Gembira kerana tidak lama lagi, dia dapat membeli jubah untuk ibu. Hari ini
hari ke empat Along keluar daripada rumah. Si ibu sedikit gelisah memikirkan
apa yang dilakukan Along di luar. Dia juga berasa agak rindu dengan Along.
Entah mengapa hati keibuannya agak tersentuh setiap kali terpandang bilik
Along. Tetapi kerinduan dan kerisauan itu terubat apabila melihat gurau
senda anak-anaknya yang lain.

Seperti selalu, Along bekerja keras membantu Abang Joe di bengkelnya. Sikap
Abang Joe yang baik dan kelakar itu sedikit sebanyak mengubat hatinya yang
luka. Abang Joe baik. Dia banyak membantu Along antaranya menumpangkan Along
di rumahnya dengan percuma. "Azam, kalau aku tanya kau jangan marah k!",
soal Abang Joe tiba-tiba sewaktu mereka menikmati nasi bungkus tengah hari
itu.. "Macam serius jer bunyinya Abang Joe?" Along kehairanan. "Sebenarnya,
kau lari dari rumah kan ?" Along tersedak mendengar soalan itu. Nasi yang
disuap ke dalam mulut tersembur keluar Matanya juga kemerah-merahan menahan
sedakan. Melihat keadaan Along itu, Abang Joe segera menghulurkan air.
"Kenapa lari dari rumah? Bergaduh dengan parents?" Tanya Abang Joe
lagi cubamenduga. Soalan Abang Joe itu benar-benar membuatkan hati
Along sebak. Along
mendiamkan diri. Dia terus menyuap nasi ke dalam mulut dan mengunyah
perlahan. Dia cuba menundukkan mukanya cuba menahan perasaan sedih. "Azam,
kau ada cita-cita tak...ataupun impian ker...?" Abang Joe mengubah topik
setelah melihat reaksi Along yang kurang selesa dengan soalannya tadi.. "
Ada " jawab Along pendek "Kau nak jadi apa besar nanti? Jurutera? Doktor?
Cikgu? Pemain bola? Mekanik macam aku....atau. ..." Along
menggeleng-gelengka n kepala. "semua tak...Cuma satu je, saya nak mati dalam
pangkuan ibu saya." Jawab Along disusuli ketawanya. Abang Joe melemparkan
tulang ayam ke arah Along yang tidak serius menjawab soalannya itu. " Ala ,
gurau ja la Abang Joe. Sebenarnya.. ..saya nak bawa ibu saya ke Mekah
dan...saya.. ..saya nak jadi anak yang soleh!". Perlahan sahaja suaranya
namun masih jelas didengari telinga Abang Joe. Abang Joe tersenyum mendengar
jawapannya. Dia bersyukur di dalam hati kerana mengenali seorang anak yang
begitu baik. Dia sendiri sudah bertahun-tahun membuka bengkel itu namun
belum pernah ada cita-cita mahu menghantar ibu ke Mekah.

Setelah tamat waktu rehat, mereka menyambung kerja masing-masing. Tidak
seperti selalu, petang itu Along kelihatan banyak berfikir. Mungkin terkesan
dengan soalan Abang Joe sewaktu makan tadi. "Abang Joe, hari ni, saya nak
balik rumah ...terima kasih banyak kerana jaga saya beberapa hari ni", ucap
Along sewaktu selesai menutup pintu bengkel. Abang Joe yang sedang mencuci
tangannya hanya mengangguk. Hatinya gembira kerana akhirnya anak muda itu
mahu pulang ke pangkuan keluarga. Sebelum berlalu, Along memeluk lelaki
bertubuh sasa itu. Ini menyebabkan Abang Joe terasa agak sebak "Abang Joe,
jaga diri baik-baik. Barang-barang yang saya tinggal kat rumah Abang Joe tu,
saya hadiahkan untuk Abang Joe." Kata Along lagi "Tapi, kau kan boleh datang
bila-bila yang kau suka ke rumah aku!?", soal Abang Joe. Dia risau
kalau-kalau Along menyalah anggap tentang soalannya tadi. Along hanya senyum
memandangnya. "Tak apa, saya bagi kat Abang Joe. Abang Joe, terima kasih
banyak ye! Saya rasa tak mampu nak balas budi baik abang. Tapi, saya doakan
perniagaan abang ni semakin maju." Balasnya dengan tenang. Sekali lagi Abang
Joe memeluknya bagai seorang abang memeluk adiknya yang akan pergi jauh.

Berbekalkan upahnya, Along segera menuju ke butik kakak Fariz untuk membeli
jubah yang diidamkannya itu. Setibanya di sana , tanpa berlengah dia terus
ke tempat di mana baju itu disangkut. " Hey Azam, mana kau pergi? Hari tu
mak kau ada tanya aku pasal kau. Kau lari dari rumah ke?", soal Fariz
setelah menyedari kedatangan sahabatnya itu Along hanya tersengeh
menampakkan giginya. "Zam, mak kau marah kau lagi ke? Kenapa kau tak bagitau
hal sebenar pasal kes kau tumbuk si Malik tu?" "Tak pe lah, perkara dah
berlalu....lagipun, aku tak nak ibu aku terasa hati kalau dia dengar tentang
perkara ni", terang Along dengan tenang. "Kau jadi mangsa. Tengok, kalau kau
tak bagitau, mak kau ingat kau yang salah", kata Fariz lagi. "Tak apa lah
Riz, aku tak nak ibu aku sedih. Lagipun aku tak kisah." "Zam..kau ni....."
"Aku ok, lagipun aku sayang dekat ibu aku. Aku tak nak dia sedih dan ingat
kisah lama tu." Jelas Along memotong kata-kata si sahabat yang masih tidak
berpuas hati itu. "Aku nak beli jubah ni Riz. Kau tolong balutkan ek, jangan
lupa lekat kad ni sekali, k!", pinta Along sambil menyerahkan sekeping kad
berwarna merah jambu. "No problem...tapi, mana kau dapat duit? Kau kerja
ke?" , soal Fariz ingin tahu. "Aku kerja kat bengkel Abang Joe... Jadi
pembantu dia", terang Along. "Abang Joe mana ni?" "Yang buka bengkel motor
kat Jalan Selasih sebelah kedai makan pakcik kantin kita tu!", jelas Along
dengan panjang lebar. Fariz mengangguk . "Azam, kau nak bagi hadiah ni kat
mak kau bila?" "Hari ni la..." balas Along. "Ooo hari lahir ibu kau hari ni
ek?" "Bukan, minggu depan..." "Habis?. Kenapa kau tak tunggu minggu depan
je?", soal Fariz lagi. "Aku rasa hari ni je yang yang sempat untuk aku bagi
hadiah ni. Lagipun, aku harap lepas ni ibu aku tak marah aku lagi." Jawabnya
sambil mengukir senyum.

Along keluar daripada kedai. Kelihatan hujan mulai turun. Namun Along tidak
sabar menunggu untuk segera menyerahkan hadiah itu untuk ibu. Sambil
menunggang, Along membayangkan wajah ibu yang sedang tersenyum menerima
hadiahnya itu. Motosikalnya sudah membelok ke Jalan Nuri II. Tiba di simpang
hadapan lorong masuk ke rumahnya, sebuah kereta wira yang cuba mengelak
daripada melanggar seekor kucing hilang kawalan dan terus merempuh Along
dari depan yang tidak sempat mengelak. Akibat perlanggaran yang kuat itu,
Along terpelanting ke tengah jalan dan mengalami hentakan yang kuat di
kepala dan belakangnya. Topi keledar yang dipakai mengalami retakan dan
tercabut daripada kepalanya, Along membuka matanya perlahan-lahan dan terus
mencari hadiah untuk si ibu dan dengan sisa kudrat yang ada, dia
cubamencapai hadiah yang tercampak berhampirannya itu. Dia menggenggam
kuat
cebisan kain dan kad yang terburai dari kotak itu. Darah semakin
membuak-buak keluar dari hidungnya. Kepalanya juga terasa sangat berat,
pandangannya berpinar-pinar dan nafasnya semakin tersekat-sekat. Dalam
keparahan itu, Along melihat kelibat orang-orang yang sangat dikenalinya
sedang berlari ke arahnya. Serta merta tubuhnya terus dirangkul seorang
wanita. Dia tahu, wanita itu adalah ibunya. Terasa bahagia sekali apabila
dahinya dikucup saat itu. Along gembira. Itu kucupan daripada ibunya. Dia
juga dapat mendengar suara Angah, Alang dan Atih memanggil-manggil namanya.
Namun tiada suara yang keluar dari kerongkongnya saat itu. Along semakin
lemah. Namun, dia kuatkan semangat dan cuba menghulurkan jubah dan kad yang
masih digenggamannya itu. "Ha..hadiah. ...untuk. ....ibu.. ......." ucapnya
sambil berusaha mengukir senyuman. Senyuman terakhir buat ibu yang sangat
dicintainya. Si ibu begitu sebak dan sedih. Si anak dipeluknya sambil dicium
berkali-kali. Air matanya merembes keluar bagai tidak dapat ditahan lagi.
Pandangan Along semakin kelam. Sebelum matanya tertutup rapat, terasa ada
air hangat yang menitik ke wajahnya. Akhirnya, Along terkulai dalam pangkuan
ibu dan dia pergi untuk selama-lamanya.

Selesai upacara pengebumian, si ibu terus duduk di sisi kubur Along bersama
Angah, Alang dan Atih. Dengan lemah, wanita itu mengeluarkan bungkusan yang
hampir relai dari beg tangannya. Sekeping kad berwarna merah jambu bertompok
darah yang kering dibukanya lalu dibaca. 'Buat ibu yang sangat dikasihi,
ampunkanlah salah silap along selama ini. Andai along melukakan hati ibu,
along pinta sejuta kemaafan. Terimalah maaf along bu..Along janji tak
kanmembuatkan ibu marah lagi. Ibu, Along sayang ibu selama-lamanya.
Selamat
hari lahir ibu... dan terimalah hadiah ini.....UNTUKMU IBU!' Kad itu dilipat
dan dicium. Air mata yang bermanik mula berjurai membasahi pipi. Begitu juga
perasaan yang dirasai Angah, Alang dan Atih. Masing-masing berasa pilu dan
sedih dengan pemergian seorang abang yang selama ini disisihkan. Sedang
melayani perasaan masing-masing, Fariz tiba-tiba muncul. Dia terus mendekati
wanita tua itu lalu mencurahkan segala apa yang dipendamnya selama ini.
"Makcik, ampunkan segala kesalahan Azam. Azam tak bersalah langsung dalam
kes pergaduhan tu makcik. Sebenarnya, waktu Azam dan saya sibuk menyiapkan
lukisan, Malik datang dekat kami Dia sengaja cari pasal dengan Azam dengan
menumpahkan warna air dekat lukisan Azam. Lepas tu, dia ejek-ejek Azam. Dia
cakap Azam anak pembunuh. Bapa Azam seorang pembunuh dan .. dia jugak cakap,
ibunya seorang perempuan gila.." cerita Fariz dengan nada sebak. Si ibu
terkejut mendengarnya. Terbayang di ruang matanya pada ketika dia merotan
Along kerana kesalahan menumbuk Malik. "Tapi, kenapa arwah tidak ceritakan
pada makcik Fariz?" Soalnya dengan sedu sedan. "Sebab.....dia tak mahu
makcik sedih dan teringat kembali peristiwa dulu. Dia cakap, dia tak nak
makcik jatuh sakit lagi, dia tak nak mengambil semua ketenangan yang makcik
ada sekarang...walaupun dia disalahkan, dia terima. Tapi dia tak sanggup
tengok makcik dimasukkan ke hospital sakit jiwa semula...." Terang Fariz
lagi. Dia berasa puas kerana dapat menyatakan kebenaran bagi pihak
sahabatnya itu.

Si ibu terdiam mendengar penjelasan Fariz. Terasa seluruh anggota badannya
menjadi Lemah. Berbagai perasaan mencengkam hatinya. Sungguh hatinya terasa
sangat pilu dan terharu dengan pengorbanan si anak yang selama ini dianggap
derhaka.

p/s : sayangilah ibu anda sementara beliau masih ada...

Friday, August 7, 2009

h1n1

Wabak h1n1
selsema yg menular..

amalkanlah dzikir..

Bismillah (Dengan Nama Allah)
Salamun Qaulam Mir Rabbir Rahim (Salam Sejahtera Dari Allah Tuhanmu Yang Penyayang)

h1n1 dgr dah dekat 14 maut.. akhir zaman.. pelbagai wabak Allah turunkan.. sebagai balasan akan perbuatan manusia itu sendiri..

selsema demam mmg kita dgr macam biasa.. tapi adakah kita tahu selsema juga meragut nyawa ratusan ribu nyawa setiap tahun.. maksud aku bukan selsema h1n1 ni tapi selsema biasa.. nampak jer macam ringan selsema ni tapi ia adalah amat berbahaya bagi mereka yg ada penyakit yg akan mengkaibatkan komplikasi lain..

risau benar aku.. bukan pada h1n1.. tapi kerana amalan tak cukup sekiranya ditakdirkan Allah..dijemput kerana virus ini..

marilah kawan kawan perbanyakkan amalan..
peringatan dari Allah di depan mata kita..